Kembali.
Aku terlalu malas memikirkan bagaimana bila kelak ada lagi satu masa dimana tidak ada kau di dunia ku. Padahal, memikirkan itu sebenarnya penting. Tapi, aku malas. Benar-benar malas. Kemungkinan terburuk itu pasti ada, aku tahu. Tapi yang hanya mau aku tahu cuma kemungkinan terburuk yang tidak sebegitu buruk. Jangan sampai tidak ada lagi kau, jangan sampai. Bahkan memikirkannya sekarang terasa begitu perih. Percaya tidak percaya, sepertinya kau tidak akan percaya. Tuhan telah mengembalikanmu setelah pertarungan ku dengan ego, kenaifan, dan gengsi diri sendiri berbulan-bulan. Lalu aku disuruh memikirkan bagaimana bila aku harus bertarung lagi? Gila atau bagaiamana? Tahu tidak bahwa yang tersulit bukanlah mengalahkan itu semua, tapi pikiranku, hatiku, juga akalku. Begitu ketiganya menyerang, ingin rasanya berubah jadi benda mati. Tapi untunglah, aku bernyawa, jadi aku memiliki ketiganya. Kali lain, aku tidak seberuntung itu.
Bukan hidup namanya bila kesenangan hanya datang sendirian, semua orang harus mengerti ini. Tapi sayangnya tidak semua orang paham. Mencoba memahami pun mereka tidak. Ada selipan-selipan yang sangat tersembunyi dibalik setiap yang datang. Aku belajar dari ini, semua hal ternyata mengandung bahaya. Semua hal tidak terkecuali. Seperti sumber bahagiaku yang baru saja Tuhan kembalikan. Aku yakin aku punya kemampuan untuk menjaganya, tentu. Tapi, beberapa hal yang tidak ku ketahui juga punya kemampuan untuk mengambilnya dariku, atau merebutnya dariku.
Aku malas menjadi yang selalu selemah ini. Bukannya bahagia itu bagiku sederhana? mendengarnya bercerita, tertawa bersama-sama, atau aku menertawakannya atau dia menertawakanku. Begitu sederhana bahagia bagiku, Tapi, waktu akhir-akhir ini seperti sedang berlari. Aku jadi merasa terpaksa melakukan hal-hal yang baru aku pelajari. Belajar seharusnya tidak seburu-buru ini. Kadang, hanya kadang aku merasa mampu. Selebihnya ketakutan dan kekhawatiranku menguasai; Aku benci dengan bagian dari diriku yang itu. Tidakkah ada yang lebih sederhana dari bahagia ku yang itu? sadarkah sesuatu? Kita terlalu sering menggantungkan bahagia pada diri lain. Aku hanya pandai melukai diri, memaksakan diri, berpura-pura dan menghibur diri lain. Sedang sisanya, aku hanya pribadi yang tidak memiliki apa yang aku berikan pada orang-orang. Tapi bagaimanapun aku beralasan tetap saja aku tidak bahagia bila Tuhan mengambilnya lagi, memisahkanku dengan nya lagi, aku tidak akan bisa bahagia.
hei, kau
Kau perlu tahu benteng tebal yang aku bangun susah-susah. Oh tapi kalau segala yang tentangmu, aku buang jauh-jauh segala kata susah. Kau tahu sendiri aku pandai soal memaklumi, kan? Dan soal memaafkan, aku tidak pernah tidak, kan?
Jadi, saat ini, aku raih kedua tanganku. Aku yakinkan bahwa aku mampu menjaga apa yang baru saja Tuhan kembalikan untukku. Karena sungguh terlalu malas memikirkan berbagai cara mengembalikan akal ketika kehadirannmu tidak ada lagi. Iya, bila kehilanganmu sepertinya akalku akan pergi.
Komentar
Posting Komentar