Pada senja, di langit Jogja.
Pada senja di sore itu, sore dilangit Jogja, aku mengaku jatuh. Pada pesona laki-laki memegang payung sedang berjalan didepanku, aku mengaku kalah. Pada mata cokelat ditambah teduh nya tatapan seseorang yang mengagumkan itu, aku mengaku kalut. Pada puncak candi Borobudur yang menangkap wajah merah ku menatap nya malu-malu, aku mengaku rendah. Juga pada pedagang pedagang di pinggir jalan pulang kita ini, yang dengan beruntungnya dapat berkedip ria tanpa malu menegur nya dan menawarkan kepunyaan mereka, yang dengan rendah hati dia balas dengan senyum paling indah yang pernah ku lihat di empat belas tahun hidupku. Sekali lagi, aku mengaku lumpuh. Lumpuh karna otakku bahkan tidak mencerna sepatah kata pun untuk memancing gerakan manis dari tubuh nya. Terlalu bodoh karna aku membiarkan tubuhku kelu melihat satu satu nya mahluk Tuhan yang benar-benar sedang ku kagumi ini tersenyum ria dengan teman teman di sebelahnya. Padahal kurang dari semeter di depanku, dia begitu dekat hingga dengan bodohnya aku sendiri yang membuat jarak menjadi beribu ribu kilometer. Dia, dengan tidak sadar menawarkan sesuatu yang kosong untuk memenuhiku, yang bahkan aku terima meski tahu benar bahwa kekosongan itu lebih menyakitkan dari angan. Dia juga, yang setelah sembilan belas tahun aku ada di dunia, dapat memenuhi kekosongan dengan kekosongan. Kau hebat, sayang. Hebat.
seru banget ceritanya apa lagi ditambah dengan lagu yang beralun sambil menemaniku membaca.
BalasHapus